Tentang Si Piyu



"Hajar Bleh, hajar!" hebat seorang mengomporinya 1/2 bercanda. Ia bergerak. Matanya nyalang. Emosinya meletup. "Haaaaah!" teriaknya keras. Kesabarannya hampir hilang. Ia benar-benar murka. "Awas lu!" ancamnya. Tangannya mengacung sepotong bambu. Dua pemuda yang sudah menyepak-nendang barang dagangannya sampai amburadul, kabur masuk keramaian pasar tanpa ada pernah dipentungnya. Ia batal memburunya. Mulutnya yang dower bawaan terus menggerutu untuk melampiaskan kekecewaan. Matanya yang berkaca-kaca digosok dengan punggung tangannya.
Ini kali kesekian ke-2 pemuda pengangguran itu berulah terhadapnya. Umumnya bila dinakali ia condong mewek atau meminta dikasihani sambil memperingatkan jika dianya anak yatim serta jangan terganggu. Tetapi sekarang ia sudah memiliki keberanian untuk bela diri. Sebenarnya ini ialah sinyal jika ia sudah mendewasa. Dapat dibuktikan juga jika ia juga dapat mencari uang dengan berjualan, walau masih berkesan seperti bermain dagang-dagangan. Itu satu perkembangan bermakna.

Pelan-pelan kekesalannya berkurang. Ia sadar jika ia sedang berjualan, dagangannya harus terjual. Ia mengobral dagangannya, rerata dua ribu rupiah. "Pete dua libu, kangkung dua libu, bayam dua libu, singkong dua libu!" Artikulasinya tidak demikian jelas serta suaranya fals.

Seorang wanita dewasa mendekat ke lapaknya serta memilih-milih. "Yaaaaah, telah pada peyot petenya."

"Mulah!"

"Murah sich murah...... Kangkung saja deh dua ikat."

Terima dua lembar uang dua beberapa ribu mukanya sumeringah. Dikibas-kibaskannya uang itu ke dagangannya sambil mulutnya seperti merafal mantera. "Penglalis!

Ia mulai membuka lapak di tempat seputar pasar kompleks perumahan semenjak dua minggu kemarin. Barang dagangannya didapat dari seorang saudaranya yang pedagang sayur-sayuran. Tetapi terakhir dengan uang yang dipunyainya ia sudah berani borong singkong di kebun punya masyarakat. Dari negosiasi harga, mengambilnya, sampai pasarkan dilakukan sendiri. Umumnya konsumen dagangannya ialah beberapa orang sekampung yang mengenalinya secara baik. Beberapa dari mereka beli dagangannya bertambah sebab kasihan serta menghormati tekadnya berikhtiar. Walau sering sepi konsumen tetapi ia terus berjualan. Umumnya melalui tengah hari sesudah pasar sepi ia tutup lapaknya. Tersisa daganganya ditawarkan di selama perjalanan pulangnya. Bila sampai di dalam rumah tetap sisa, Mak Juminah-lah yang selanjutnya memasaknya atau memberinya pada tetangga.

Walau karakter kekanak-kanakannya masih terlihat menguasai, tetapi sekarang ia semakin lebih dewasa dibandingkan dengan sekian tahun awalnya. Maklumlah, ia tercipta dengan situasi mental yang spesial. Ayahnya wafat saat ia masih kanak-kanak. Ibunya kerepotan mengaturinya. Ia juga tidak dapat mengenyam pendidikan seperti harusnya. Ia sempat tidak diterima saat akan masuk SD sebab dicemaskan tidak bisa ikuti pelajaran. Tidak ada orang yang mampu dengan tekun mengajarinya baca-tulis sesuai kekuatannya, juga guru ngaji yang sempat dikunjunginya. Tiap pelajaran yang dikatakan padanya seperti tidak sedikitpun ada yang tersangkut di pikirannya.

Selain keadaannya yang serba kekurangan, beberapa orang mengasihinya bertambah sebab ia anak yatim. Ia sering terima pemberian yang diatasnamakan untuk sedekah. Serta tiap 'lebaran yatim' tanggal sepuluh Muharam ia tetap ada serta masuk barisan bersama-sama beberapa anak yatim yang lain untuk memperoleh santunan. Ia juga suka sebab mendapatkan uang. Beberapa orang tidak lepas dari menyeka kepalanya. Mereka mengharap pahala sunah. Cuma ia penerima santunan anak yatim yang sangat tua. Panitia belum punya niat mencoret namanya. Ia masih dipandang wajar. "Kamu lagi kamu lagi!" cetus seorang panitia membecandai.

Umumnya sebatas untuk beli jajanan ia tetap punyai uang. Bila tidak punyai uang ia sering meminta pada siapapun yang dijumpainya. Sedikit yang diharapnya, cuma seribu rupiah. "Meminta uang ebu!" pintanya dengan tangan menadah. Bila dikasih uang lima beberapa ribu atau bisa lebih ia menampik. Yang ia ingin cuma seribu rupiah sebab baru itu yang dia paham. Serta sampai umurnya kepala tiga ia tetap jadi peminta-minta. Jika cuma diharap seribu rupiah orang juga tidak keberatan. Bila bertepatan sedang tidak ada uang, orang dewasa sering memberikannya sebatang rokok. Ia tidak menampik. Ia diajari merokok, setelah itu ia suka. Jadilah ia perokok seperti banyak orang dewasa. Ibunya tidak bisa mengatur kesukaannya itu. Seperti knalpot lokomotif, setip hari dari mulutnya mengepul asap rokok. Pada umur dewasanya sekarang, terlihat jelas dampak merokok pada performanya. Mulutnya bau rokok, giginya kuning serta beberapa hitam. Ia seringkali batuk-batuk.


 

Postingan populer dari blog ini

she failed to seem to be towards wish her mommy to accomplish just about anything along with the fallen leave

The Earth’s surface is splotched with 117 million lakes.

resentment towards the Twenty-first Amendment