Sang Petarung Gelombang
Situasi pada pagi ini nampak benar-benar cerah hingga membuat hatiku makin senang. Saya berjalan perlahan-lahan telusuri pinggir pantai sekalian nikmati deburan ombak yang bekejar-kejaran.
Di seputar pinggiran pantai nampak sebagian orang nelayan bertanding di atas perahu dengan gelombang air yang tinggi untuk menyebarkan jala mengais rejeki ditengah-tengah lautan. Sesaat saya hentikan cara kakiku, memandang ke atas langit yang biru sama warna air laut yang kontras.
"Maaf Pak, ingin membeli kue ini. Semenjak barusan belumlah ada seorang juga beli dagangan saya." Seorang anak nelayan mengagetkan lamunanku lantas mendekati serta tawarkan kue yang dipasarkannya kepadaku.
"Oh tidak apa-apa dik, berapakah harga kue yang kamu jual ini?" Saya bertanya kembali lagi harga kue yang dipasarkan anak nelayan itu.
"Satu bungkus cuma 5 ribu rupiah saja, Pak." Jawab anak itu. Saya beli tiga bungkus kue yang ditawarkan anak itu. Di benakku tersimpan beberapa pertanyaan terkait dengan situasi keluarga nelayan yang berusaha ditengah-tengah lautan, serta berusaha di daratan.
Saya memandang nun dari kejauhan kelompok nelayan yang ingin melabuhkan perahu ke pinggir pantai. Ada yang meningkatkan serta menarik jala dengan cara bergerombol. "Satu...dua...tiga..." aba-aba yang disampaikan panglima atau pimpinan kelompok nelayan pada kelompoknya untuk menarik jala yang disebarkan.
Semaksimal mungkin serta semangat beberapa nelayan menarik jala sampai ke tepi pantai. Satu demi satu beberapa nelayan kumpulkan ikan yang tertangkap di jala. Ada senyuman nampak di muka beberapa nelayan, sesudah memperoleh ikan.
"Alhamdulillah, ini hari ikan yang kita peroleh agak banyak, mudah-mudahan esok jaring serta jala kita kembali lagi mendapatkan ikan-ikan yang meningkatkan rejeki keluarga kita di dalam rumah." Sebut seorang nelayan pada nelayan yang lain.
Saya dekati kelompok nelayan yang lain yang dengan cara bergerombol menarik jala ke pinggiran pantai. Terlihat dari muka mereka nampak lesu serta tidak semangat saat hasil yang didapat kurang menyenangkan.
"Kita tetap harus bersabar, meskipun hasil tangkapan ini hari sedikit. Kemungkinan hari -hari selanjutnya, ikan-ikan itu akan mendekati jaring serta jala kita." Coba menentramkan sebagian orang nelayan yang nampak sedikit sedih. Satu demi satu nelayan itu pergi kembali pada rumah mereka semasing.
Pagi hari ini, saya lihat dua barisan nelayan yang lain hasil tangkapan. Saya berasumsi apa saja yang diterima beberapa nelayan hasil dari tangkapan di lautan, mereka masih mensyukurinya. Untuk orang yang tetap hidup di atas gelombang lautan serta sarat dengan bahaya, beberapa nelayan itu tetap mengucapkan syukur walau yang mereka dapatkan dari lautan tidak menyenangkan hati.
