Kenapa Anak Harus Menang?
Saya menempatkan masker memiliki warna biru, dengan gambar Tayo di atas meja belajar kayu merek Olympic--yang dibelikan ayah dua bulan kemarin. Sesudahnya, saya bergegas mandi untuk bersihkan badan selesai tiga puluh menit bermain sepeda di seputar rumah.
Ini ialah ketentuan di rumahku, yang dibikin oleh ibu. Dia mengizinkanku bermain, asal jalankan prosedur kesehatan. Satu saran yang sangat jemu kudengar sebetulnya. Tetapi ya ingin bagaimana. Serunya, ibu jadi banyak pekerjaan. Dia membuat keran bikinan, dari ember sisa cat memiliki warna putih yang dilubangi di bagian depan--diletakan di halaman rumahku. Tidak lupa, sabun aroma jeruk nipis bersanding di sebelahnya. Cukup sedikit sedih. Soalnya, saya bertambah senang harum buah apel. Tetapi tidak apa-apa.
Tiap pagi, ibu teratur isi sabun dan air bila telah habis. Bila belum habis, ibu masih teratur mengubah air di ember. Tetapi, ibu tidak memberikan tambahan isi sabun. Dua bulan ini, ibu seringkali mengatur tanaman. Saya tidak ingat namanya, sulit susah sekali. Tetapi, tanaman daun sirih tetap jadi pujaannya. Sebab, ibu serta ayah seringkali gunakan air rebusan daun sirih, untuk bersihkan matanya, yang telah cukup kabur.
Saya namanya Nur Awal. Siswa kelas 8 SMP di sekolah swasta wilayah Depok. Makna dari namaku dapat didefinisikan dengan gampang. Nur bermakna sinar serta Awal bermakna permulaan. Nur Awal = "Sinar di Awal", sebab saya ialah anak pertama serta hanya satu sampai saat ini.
Ayahku seorang pengantar paket di salah satunya perusahaan layanan pengiriman. Sesaat ibu, konsentrasi mengaturku serta rumah tangga. Kadang-kadang, dia membuat donat kentang--jika ada pesanan dari tetangga. Kata mereka, donat ibuku enak serta murah. Harga cuma dua ribu rupiah. Seringkali diberi bonus, bila beli di atas tiga puluh buah.
Saya suka, hidup bersama-sama ibu serta ayah. Tetapi, saat ada covid-19. Saya jengkel sekali, ayah jadi jarang-jarang pulang pas waktu serta ibu terkadang seringkali kuatir. Saya dapat merasai, kemungkinan ibu cemas sebab ayah seringkali berkeliling-keliling. Sama sepertiku, ibu tentu takut ayah terkena virus. Tetapi, saya cukup lega. Saat ayah menerangkan pada kami, jika tiap satu bulan sekali akan ada sarana rapid tes dari perusahaannya. Tetapi, tetap kami kuatir.
Belum juga, ibu harus ikhlas mendampingiku semasa proses Belajar dari Rumah (BDR). Tempo hari, saya sebal sama ibu. Soalnya, ibu tidak memberikan dukungan saya menjadi juara. Semasa BDR, guru di sekolah seringkali membuat lomba. Ditambah lagi pelajaran IPA. Minggu ini, saya mendapatkan pekerjaan untuk bikin poster: organ badan manusia serta manfaatnya.
Saya senang sekali bila ada lomba serta saya harus menang. Sebab, saya senang saja namaku populer. Saya berasa hebat, sebab saya sukses menaklukkan teman-temanku. Tetapi, kelihatannya itu tidak berlangsung. Soalnya, ibu lupa beli kertas karton. Jadi, saya cuma membuat poster seadanya, di kertas gambar tersisa tahun ajaran tempo hari.
Saya tahu, ibu kemungkinan capek sekali. Karena itu dia lupa membeli. Saya pernah geram. Tetapi, ibu memberikanku keterangan yang dapat saya pikirkan.
"Ibu, mengapa lupa beliin Awal kertas karton? Awal kan tidak dapat menang jika kaya gini?"
"Memang, mengapa Awal tetap ingin menang?"
"Saya ingin populer bu. Saya senang saat bu guru umumin namaku ke rekan-rekan."
"Menurut Awal, apa semua juara itu hebat?"
"Ya, hebat dong bu. Faktanya jika Awal menang. Rekan-rekan Awal langsung main serta perhatian sama Awal."
"Hehe (ibu ketawa). Lantas, jika Awal kalah, rekan-rekan bagaimana?"
Saya terdiam sesaat, "Ya, biasa saja bu."
"Nah, bermakna hebat atau mungkin tidak seorang. Bukan lantaran ia sukses menang atau mungkin tidak. Jika ibu sich bertambah senang bila Awal terus coba walau kalah."
"Ibu suka jika Awal kalah?"
"Bukan demikian Wal, jika kamu kalah lantas coba lagi. Ibu kan jadi dapat benahi kekeliruan ibu . Ibu akan beliin Awal kertas karton agar Awal dapat menang. Jadi, Awal serta Ibu keduanya sama melakukan perbaikan kekeliruan."
***
Re
September, 2020
